Pandangan hidup para tokoh
Hidup
Sederhana seperti Proklamator Mohammad Hatta
Tindak-tanduk
Mohammad Hatta penuh inspirasi. Kesederhanaan Bung Hatta dalam menjalani
kehidupan jadi salah satunya. Semasa muda Bung hatta tak terpengaruh pergaulan
bebas, pun setelah tua tak gila jabatan. Sosok proklamator itu menjadi
perwujudan sempurna pahlawan bangsa, baik ia secara pribadi atau pejabat.
Padahal, Hatta lahir dari dua perpaduan dua keluarga terkemuka : pemuka agama
dan saudagar. Tapi Bung Hatta memilih jalan kesederhanaannya sendiri. Sekalipun
lahir dari keluarga kaya, kehidupan Bung Hatta jauh dari foya-foya. Dalam
banyak hal, Bung Hatta lebih memilih jalan sebagai pesakitan, dibanding
memanfaatkan kesempatan menjadi kaya raya. Pandangan akan kesederhaannya itu
semakin menggugah sikap kerakyatannya ketika menimba ilmu di negeri Belanda.
Tak
sedikit tokoh bangsa yang mengungkap jika ingin belajar kesederhanaan, maka
belajarlah dari Bung Hatta. Pandangan itu bukan pepesan kosong belaka. Hingga
akhir hayatnya, Bung Hatta hidup dalam kesederhanaan. Bung Hatta enggan memuja
kesenangan yang berlebihan, juga tak mau menggunakan uang yang bukan haknya.
Sikap ini bahkan sempat diutarakan oleh sahabatnya Soekarno dengan nada sedikit
menyindir. Di mata Soekarno, Hatta dianggapnya sosok terlalu serius. “Hatta dan
aku tak pernah berada dalam getaran gelombang yang sama. Cara yang paling baik
untuk melukiskan tentang pribadi Hatta ialah dengan menceritakan tentang
kejadian di suatu sore, ketika dalam perjalanan ke suatu tempat dan satu‐
satunya penumpang lain dalam kendaraan itu adalah seorang gadis yang cantik. Di
suatu tempat yang sepi dan terasing ban pecah. Jejaka Hatta adalan seorang yang
pemerah muka apabila bertemu dengan seorang gadis. Ia tak pernah menari,
tertawa atau menikmati kehidupan ini,” cerita Bung Karno dikutip Cindy Adams
dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1965).
Sumber
:
https://voi.id/memori/59081/hidup-sederhana-seperti-proklamator-mohammad-hatta
3
Pandangan hidup Ki Hajar Dewantara yang menjadi semboyan Taman Siswa
Siapa yang tidak tahu
dengan Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan di Indonesia yang telah
mempelopori pendidikan untuk pribumi dari mulai penjajahan belanda ini. Ki
Hajar mempelopori pendidikan dengan mendirikan sekolah dengan nama Nationaal
Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Taman Siswa yang
sekarang lebih dikenal dengan nama Tamana Siswa saja. Taman siswa merupakan
suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata
untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang
Belanda. 3 Pandangan Hidup Ki Hajar Dewantara yang sangat
terkenal hingga sekarang yaitu :
Ing Ngarso Sun Tulodo, artinya Ing
ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsunyang artinya saya,
Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadiseorang
pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang
disekitarnya.Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri
tauladan.
Ing Madyo Mbangun Karso,
Ing Madyo
artinya di tengah-tengah, Membangun berartimembangkitan atau menggugah dan
Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadimakna dari kata itu
adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampumembangkitkan atau
menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampumemberikan
inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif
untuk keamanan dan kenyamanan
Tut Wuri Handayani, Artinya mengikuti
dari belakang dan handayani berati memberikandorongan moral atau dorongan
semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialahseseorang harus memberikan
dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Doronganmoral ini sangat
dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dansemangat.
Sumber :
https://habibullah88.wordpress.com/2012/09/22/3-pandangan-hidup-ki-hajar-dewantara-yang-menjadi-semboyan-taman-siswa/
Cut Nyak Dhien Berjuang
Sampai Pengasingan
Cut Nyak Dhien adalah
keturunan bangsawan Aceh, lahir pada 1848 di kampung Lam Padang Peukan Bada,
wilayah VI Mukim, Aceh Besar. Saat menginjak usia 12 tahun, ia dijodohkan
dengan Teuku Ibrahim Lamnga, putra Teuku Po Amat, Uleebalang Lam Nga XIII.
Suaminya seorang pemuda berwawasan luas dan taat kepada agama. Dari pernikahan
tersebut, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki. Pada 29 Juni 1878, Teuku
Ibrahim wafat. Kematian sang suami membuat Cut Nyak Dhien terpuruk. Namun,
kejadian itu tak membuatnya putus asa, sebaliknya menjadi alasan kuat Cut Nyak
Dhien berjuang menggantikan sosok suaminya.
Selepas kematian
suaminya, Cut Nyak Dhien menikah lagi dengan Teuku Umar, cucu dari kakek Cut
Nyak Dhien. Tidak hanya diikatkan dengan tali pernikahan, tetapi keduanya
bersatu untuk memerangi penjajah. Bukan karena semata-mata ingin mendapatkan
sosok kepala rumah tangga di dekatnya, tetapi Cut Nyak Dhien beralasan ingin
berjuang bersama dengan laki-laki yang mengizinkannya terjun ke medan perang
untuk melawan Belanda. Keduanya melakukan pertempuran dengan semangat
juang membara. Salah satu keberhasilan mereka yakni merebut kembali kampung halaman
Cut Nyak Dhien. Teukur umar juga berpura-pura tunduk kepada Belanda demi
mendapatkan pasokan persenjataan yang kemudian mereka gunakan untuk kembali
menyerang penjajah.
Belakangan, Teuku Umar
gugur dalam medan laga di Meulaboh. Suami keduanya itu gugur karena itikad
penyerangannya telah diketahui Belanda sejak awal. Meskipun orang-orang
terkasihnya telah meninggalkannya, Cut Nya Dhien terus melangsungkan
pertempurannya selama enam tahun. Ia bergerilya dari satu wilayah ke wilayah
lainnya. Selama itu, ia bersama rakyat dan pejuang lainnya, dihadapkan pada
penderitaan, kehabisan makanan, uang, dan pasokan senjata. Cut Nyak Dhien
dengan keadaan fisiknya yang mulai renta terus berupaya melarikan diri dari
Belanda. Meskipun pada saat itu, pasukan tempurnya melemah karena ancaman
Belanda. Sayangnya, panglima pasukannya, Pang Laot berkhianat. Ia bersama-sama
Belanda mencari keberadaan Cut Nyak Dhien. Mereka berhasil menemukan
persembunyian Cut Nyak Dhien dan kemudian membawanya ke Kutaradja. Atas
permintaan Pang Laot kepada Belanda, Cut Nyak Dhien mendapat perlakuan baik
oleh Belanda. Gubernur Belanda di Kutaradja, Van Daalen, tidak menyenangi hal
tersebut sehingga Cut Nyak Dhien diasingkan ke pulau Jawa, tepatnya Sumedang
pada 1907. Setahun, masa pengasingannya, Cut Nyak Dhien mengembuskan napas
terakhirnya. Ia menjadi salah satu sosok wanita Indonesia yang patut dicontoh
keberaniannya.
Sumber :
https://tirto.id/biografi-cut-nyak-dhien-sejarah-singkat-pahlawan-wanita-dari-aceh-ga6X
Kartini : pelopor
emansipasi wanita Indonesia
“Gadis yang pikirannya
sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi
hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” – RA Kartini
Pada 21 April, lebih tepatnya sudah 142 tahun sejak tahun 1879, Raden Adjeng Kartini atau lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah. RA Kartini merupakan Pahlawan Nasional Indonesia dan sosok figur emansipatoris. Pahlawan perempuan yang hari kelahirannya diperingati setiap 21 April ini, berjuang keras untuk kesetaraan bagi para wanita di Indonesia. RA Kartini memperjuangkan kesetaraan wanita karena saat itu keberadaan kaum hawa seringkali tidak dihargai. Wanita hanya boleh mengerjakan urusan dapur dan mengurus anak, para wanita pun tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. RA Kartini dengan segenap hati dan jiwanya, berjuang agar para wanita Indonesia yang merasa tertindas mendapatkan derajat yang sama dengan pria. Perjuangan dari RA Kartini ini benar-benar berpengaruh besar bagi para wanita Indonesia.
Selain memperjuangkan kesetaraan kaum hawa, RA Kartini juga memperjuangkan bidang sosial, hukum, serta khususnya pendidikan. Revolusi industri 4.0 merupakan momen yang harus dimanfaatkan karena merupakan potensi bagi para perempuan untuk bekerja di industri digital. Teknologi yang ada saat ini sudah sangat membantu para wanita untuk memanfaatkan menjadi sebuah peluang bisnis. Namun, literasi digital bagi kaum perempuan secara umum yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut dalam keseharian mereka.
Kartini di era revolusi 4.0 harus memiliki power untuk mendobrak dan melahirkan generasi yang luar biasa dengan berfikir secara logis, rasional akan informasi yang diterima, dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Para Kartini millennial harus mengutamakan pendidikan sebagai kunci keberhasilan suatu bangsa untuk melawan radikalisme, serta menjadikan bentuk pribadi generasi millennial yang inovatif, mandiri, cerdas, dan menumbuhkan rasa nasionalisme.
Sumber : https://www.ibik.ac.id/kartini-pelopor-emansipasi-wanita-indonesia-dan-perannya-di-era-revolusi-industri-4-0/
Wafatnya Sang Ayam Jantan dari Timur Akhiri Kejayaan Gowa
Dikutip dari daftar raja-raja Gowa yang dimuat dalam buku Islamisasi Kerajaan Gowa Abad XVI sampai Abad XVII (2005:183) karya Ahmad M. Sewang, Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa ke-16, atau Sultan Gowa ke-3 sejak kerajaan ini mulai memeluk Islam. Hasanuddin lahir di Gowa pada 12 Januari 1631 dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Ia putra mahkota Sultan Malik as-Said atau Malikulsaid (1639-1653). Kakek Hasanuddin, Sultan Alauddin (1593-1639) adalah Raja Gowa pertama yang memeluk agama Islam. Sejak menjelang dewasa, Hasanuddin sudah menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya. Sultan Malikulsaid mengangkat putra kebanggaannya itu sebagai panglima pertahanan Kesultanan Gowa pada 1652. Hasanuddin bertanggungjawab atas keamanan kerajaan. Namun, masa-masa keemasan itu mulai terancam sejak orang-orang Belanda berbendera VOC menyambangi Sulawesi bagian selatan pada pertengahan abad ke-17. VOC tergiur ingin menguasai perdagangan di kawasan yang amat strategis tersebut.
Kabar Belanda akan menyerang ternyata benar adanya. Pada Januari dan Februari 1660, VOC mengirimkan rombongan kapal tempurnya dari Batavia menuju Ambon di Kepulauan Maluku di bawah pimpinan Johan van Dam dan Johan Truytman. Kapal-kapal tersebut diberangkatkan secara bergelombang dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Sultan Hasanuddin yang mengetahui pergerakan kapal VOC kemudian mengumpulkan semua bangsawan Gowa untuk diminta sumpah setianya. Selain itu, kerajaan-kerajaan yang dinaungi Kesultanan Gowa, termasuk beberapa kerajaan di Kepulauan Nusa Tenggara, diperintahkan untuk mengirimkan pasukan bantuan. Ditemani Karaeng Tallo, Sultan Hasanuddin bertahan di istana. Saudara laki-laki sultan, Daeng Talolo, memimpin 3.000 prajurit dan bersiap di benteng utama. Di beberapa lokasi penting juga ditempatkan ribuan pasukan, antara lain 1.500 prajurit di tepi Sungai Kalak Ongkong.
Tak kurang dari 6.000 orang disiagakan di Bantaeng. Wanita dan anak-anak diungsikan ke pedalaman. Sementara para pemuda dan kaum pria dikerahkan untuk mengangkat senjata guna mempertahankan Kesultanan Gowa manakala Belanda benar-benar menyerang dan mampu merangsek hingga ke area permukiman sebelum mengarah ke istana yang dihuni Sultan Hasanuddin. Pertempuran akhirnya benar-benar dimulai pada pertengahan 1660 itu. VOC berhasil menguasai Benteng Panakukang milik Kesultanan Gowa sehingga Sultan Hasanuddin terpaksa bersedia menggelar perundingan dengan pihak lawan. Sultan Hasanuddin menyerah dan terpaksa meletakkan takhta. Pada 12 Juni 1670, tepat setahun setelah kekalahan telak itu, ia meninggal dunia dalam usia yang masih cukup muda, yakni 39 tahun. Sepeninggal Sultan Hasanuddin, perlawanan terhadap VOC memang beberapa kali dilancarkan, meskipun dalam skala yang kecil dan nyaris selalu bisa dipatahkan. Namun, Kesultanan Gowa tidak pernah lagi mencapai kejayaan seperti yang pernah dinikmati pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin.
Sumber : https://tirto.id/wafatnya-sang-ayam-jantan-dari-timur-akhiri-kejayaan-gowa-cLHS
Komentar
Posting Komentar